19/04/2026

Bangun Sistem Pertahanan Semesta di Era Digital, Nenggala Research Tekankan Urgensi Ketahanan Siber Sipil dan Kemandirian Teknologi

Ringkasan:
Nenggala Research menekankan pentingnya integrasi teknologi modern dalam Sistem Pertahanan Semesta guna menjaga kedaulatan NKRI dari ancaman modern. Menghadapi lonjakan 3,64 miliar anomali siber serta kerugian penipuan digital senilai Rp 2,6 triliun pada 2025, Indonesia wajib mewaspadai ancaman hibrida dan otomatisasi militer. Strategi utama mencakup perlindungan infrastruktur sipil kritis, serta sinergi komando terpadu antara BSSN, Komdigi, dan Polri. Kemandirian industri harus dicapai melalui kolaborasi Triple Helix antara pemerintah, industri, dan akademisi guna memperkuat kapasitas talenta nasional serta membangun ekosistem siber yang tangguh.

JAKARTA – Dalam upaya memperkuat kedaulatan negara di ruang siber, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama Komisi I DPR RI menggelar seminar literasi digital bertajuk “Peran Transformasi Digital Dalam Memperkuat Sistem Pertahanan Semesta” pada Kamis (16/04/2026). Salah satu pembicara utama, Yudha Kurniawan dari Universitas Bakrie sekaligus co-principal Nenggala Research, memaparkan urgensi integrasi teknologi modern untuk menghadapi evolusi ancaman keamanan yang kian kompleks.

Yudha Kurniawan menjelaskan bahwa Sistem Pertahanan Semesta bukan sekadar urusan militer, melainkan sistem pertahanan yang bersifat semesta dengan melibatkan seluruh warga negara, wilayah, dan sumber daya nasional lainnya. Hal ini sejalan dengan amanat UUD 1945 Pasal 30 Ayat 1 yang mewajibkan tiap warga negara ikut serta dalam pembelaan negara.

Dalam paparannya, Yudha menyoroti transformasi digital yang telah mengubah cara organisasi beroperasi dan berinovasi. Namun, di balik efisiensi tersebut, terdapat evolusi ancaman keamanan modern yang mencakup Perang Asimetris & Hibrida,  Ancaman Siber (Cyber Warfare) dan Otomatisasi Militer seperti Penggunaan drone (UAV), autonomous weapons, dan kecerdasan buatan (AI) oleh pihak lawan.

Lebih lanjut, Yudha memaparkan data mengkhawatirkan mengenai dampak serangan siber sepanjang tahun 2025, di antaranya adanya 3,64 miliar anomali serangan siber. Selain itu, kerugian akibat penipuan digital mencapai Rp 2,6 triliun, dibarengi dengan peningkatan konten deepfake sebesar 550% yang digunakan untuk pemalsuan identitas. Jenis ancaman lain yang marak di Indonesia meliputi pencurian identitas, pembajakan akun perbankan, phishing, hingga ransomware.

Menghadapi tantangan tersebut, Yudha Kurniawan mengusulkan beberapa langkah strategis dalam membangun ekosistem siber nasional seperti memperkuat ketahanan siber sipil dengan perlindungan optimal pada infrastruktur sipil vital, mengembangkan sistem peringatan dini dan meningkatkan sinergi kelembagaan seperti menciptakan komando siber terpadu yang menyinergikan BSSN, Komdigi, Polri, dan sektor pertahanan.

Sebagai penutup, Yudha menekankan pentingnya strategi Triple Helix—kolaborasi antara Pemerintah, Industri, dan Akademisi—untuk mewujudkan kemandirian industri teknologi digital dan pendidikan berkelanjutan guna meningkatkan kapasitas talenta digital Indonesia.

Artikel ini dimuat pada https://telegraf.co.id/perkuat-pertahanan-semesta-kominfo-dan-dpr-dorong-percepatan-transformasi-digital/

Yudha Kurniawan, S.Sos., M.A
Ditulis oleh

Yudha Kurniawan, S.Sos., M.A

Profil diperbarui 4 May 2026
Professional Experience
Yudha Kurniawan, S.Sos., M.A, seorang profesional dengan latar belakang dalam Ilmu Politik dan Hubungan Internasional. Ia memiliki pengalaman sebagai peneliti di Laboratorium Ilmu Politik Universitas Bakrie dan Lembaga S…