JAKARTA-Principal Nenggala Research, Broto Wardoyo, mengusulkan resilience-based hedging sebagai pilihan strategis Indonesia untuk menavigasikan dinamika geopolitik global yang ditandai dengan meningkatnya konflik antar-negara, fragmentasi geoekonomi, serta disrupsi lintas sektor yang saling terhubung. Dunia tidak lagi dihadapkan pada risiko tunggal, melainkan pada konfigurasi risiko yang bersifat sistemik, berlapis, dan terus berevolusi.
Pada level global, tren risiko menunjukkan pergeseran dari krisis energi dan biaya hidup menuju disinformasi, risiko kecerdasan buatan, hingga konflik berbasis negara dan fragmentasi ekonomi global. Pergeseran ini menandai transisi dari krisis sektoral menuju krisis struktural, di mana risiko tidak hanya meningkat, tetapi juga saling memperkuat dalam pola yang terhubung (WEF, 2023; 2024; 2025; 2026).
Di tingkat kawasan, khususnya Asia Tenggara, risiko tersebut tidak diterjemahkan secara netral. Perubahan iklim serta ketegangan ekonomi antar kekuatan besar menjadi isu dominan karena paling relevan dengan eksposur dan pengalaman kawasan. Kawasan berfungsi sebagai filter strategis yang memprioritaskan risiko sekaligus menjadi ruang di mana rivalitas global diterjemahkan menjadi tekanan yang lebih konkret (ISEAS, 2023; 2024; 2025; 2026).
Pada level nasional, seluruh tekanan tersebut bermuara pada kerentanan domestik. Dampaknya terlihat pada tekanan harga energi dan pangan, kontraksi ekonomi, keterbatasan ruang fiskal, peningkatan kerentanan sosial, serta tantangan terhadap stabilitas politik dan orientasi kebijakan luar negeri. Risiko global dengan demikian bertransformasi menjadi persoalan stabilitas nasional yang langsung memerlukan respons kebijakan.
Konfigurasi risiko berlapis ini memperlihatkan keterbatasan pendekatan strategis yang ada. Hedging konvensional memberikan fleksibilitas eksternal, tetapi tidak cukup untuk menyerap dampak krisis di dalam negeri. Sebaliknya, pendekatan yang hanya berfokus pada penguatan domestik berisiko mengabaikan sumber tekanan eksternal. Resilience-based hedging menjembatani kesenjangan tersebut. Berbasis pada logika internal balancing, pendekatan ini menggabungkan fleksibilitas eksternal melalui diversifikasi mitra, kerja sama ekonomi dan diplomasi, serta ambiguitas strategis, dengan penguatan kapasitas domestik yang mencakup ketahanan pangan dan energi, stabilitas ekonomi dan fiskal, kohesi sosial politik, serta manajemen risiko berbasis pengukuran dan skenario. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya mampu bermanuver dalam sistem internasional, tetapi juga memiliki daya tahan untuk menyerap guncangan yang dihasilkan oleh sistem tersebut.
Gagasan ini dipaparkan oleh Broto dalam forum IR Youth Talks yang diselenggarakan oleh Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) Chapter Jabodetabek di Universitas Indonesia tanggal 21 April 2026 sebagai upaya mendorong pembacaan geopolitik yang lebih terintegrasi dan berbasis risiko, sekaligus menawarkan kerangka kebijakan yang adaptif terhadap perubahan karakter sistem internasional. Di acara tersebut, hadir pula Direktur Kajian Ideologi dan Politik Lemhannas RI yang memaparkan bacaan peta geopolitik global Indonesia dan Anggy Pasaribu yang menjadi moderator kegiatan.


