Jakarta, 30 Maret 2026 — Wacana mengenai kemungkinan operasi darat Amerika Serikat ke Iran kembali mengemuka dalam diskusi publik, termasuk dalam talkshow CNN Indonesia pada hari yang sama. Namun, bagi Broto Wardoyo—Principal Nenggala Research sekaligus Dosen Departemen Hubungan Internasional, Universitas Indonesia—isu ini tidak dapat dipahami semata sebagai pilihan militer, melainkan sebagai keputusan strategis dengan konsekuensi jangka panjang yang luas dan kompleks.
“Operasi darat itu selalu ada sebagai opsi strategis, tetapi harganya mahal dan risikonya sangat besar. Jadi, dia hanya masuk akal kalau tujuannya benar-benar besar dan jelas,” ujar Broto. Dia menegaskan bahwa implikasi utama dari operasi darat bukan terletak pada fase invasi awal, melainkan pada dinamika pasca-intervensi yang cenderung memperpanjang konflik.
Dalam perspektif analisis strategis, operasi darat berada pada spektrum paling eskalatif dalam penggunaan kekuatan militer. Pengalaman Amerika Serikat di Afghanistan dan Irak menunjukkan pola yang relatif konsisten: keberhasilan taktis dalam fase awal tidak berbanding lurus dengan keberhasilan strategis dalam jangka panjang. Intervensi di Afghanistan, sebagaimana dijelaskan oleh Amin Saikal dalam How to Lose a War, berkembang dari pendekatan terbatas menjadi keterlibatan mendalam dalam proyek state-building, yang justru menyeret Amerika Serikat ke dalam konflik berkepanjangan tanpa tujuan akhir yang jelas.
Lebih jauh, kajian dalam Not Even Past: How the United States Ends Wars menunjukkan bahwa problem mendasar kebijakan militer Amerika Serikat bukan hanya pada bagaimana perang dimulai, tetapi pada ketidakmampuan untuk mengakhirinya secara strategis. Dalam banyak kasus, Amerika Serikat tidak benar-benar “menyelesaikan” perang, melainkan hanya menarik diri, meninggalkan konflik yang tetap berlanjut dalam bentuk lain.
“Kita sudah belajar dari Irak dan Afghanistan, fase invasi biasanya berhasil. Tapi fase setelah itu—stabilisasi dan okupasi—justru yang menjadi masalah besar,” kata Broto.
Dari perspektif Nenggala Research, analisis terhadap kemungkinan operasi darat AS ke Iran perlu dimulai dari dua skenario utama: operasi besar (full-scale invasion) dan operasi terbatas (limited ground operation). Operasi besar membawa risiko konflik jangka panjang dengan biaya politik, militer, dan ekonomi yang sangat tinggi. Dalam konteks Iran—negara dengan kapasitas militer, kohesi politik, dan identitas nasional yang kuat—skenario ini berpotensi menciptakan perang berkepanjangan dengan tingkat resistensi yang tinggi.
Sebaliknya, skenario yang lebih sering muncul dalam kalkulasi strategis adalah operasi terbatas yang menargetkan objek bernilai tinggi. Dalam konteks Iran, salah satu target yang paling krusial adalah Pulau Kharg, pusat utama ekspor minyak negara tersebut. Pulau ini menjadi titik kritis dalam sistem energi Iran dan memainkan peran sentral dalam menjaga aliran ekspor minyaknya.
Dalam logika militer, penguasaan atau pelumpuhan Kharg Island dapat memberikan tekanan strategis signifikan tanpa harus melakukan invasi penuh ke daratan Iran. Ini merupakan contoh bagaimana tujuan strategis dapat dikejar melalui operasi yang lebih terbatas dan terfokus. “Secara teoritis, Anda bisa bayangkan operasi yang lebih terbatas, misalnya menguasai titik logistik seperti Kharg Island untuk memukul ekspor minyak Iran,” ujar Broto.
Namun demikian, pendekatan ini tidak menghilangkan kompleksitas operasional. Kharg Island bukan hanya aset ekonomi, tetapi juga target yang secara geografis dan militer sangat sensitif. Kedekatannya dengan daratan Iran membuatnya berada dalam jangkauan pertahanan militer Iran, termasuk kemampuan untuk merespons secara cepat baik melalui kekuatan konvensional maupun asimetris. “Bahkan operasi terbatas pun tidak akan mudah. Iran punya kapasitas untuk memberikan perlawanan, baik secara konvensional maupun asimetris,” tegas Broto.
Lebih jauh, skenario ini membawa implikasi yang melampaui dimensi militer. Gangguan terhadap fasilitas utama ekspor minyak Iran berpotensi mengganggu pasokan energi global. Dalam pasar energi yang sensitif, gangguan terhadap satu titik kritis dapat memicu volatilitas harga yang signifikan dan memperbesar ketidakpastian ekonomi global. Dari perspektif kebijakan, ini menciptakan efek berantai yang sering kali diabaikan dalam perencanaan militer. Dampak konflik tidak hanya dirasakan oleh aktor yang terlibat langsung, tetapi juga oleh sistem ekonomi global secara keseluruhan.
Dalam konteks Indonesia, implikasi ini menjadi sangat relevan. Ketergantungan terhadap dinamika pasar energi global membuat setiap gangguan di Teluk Persia berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi domestik, terutama melalui kenaikan harga energi dan tekanan inflasi. “Yang harus diperhatikan bukan hanya apakah operasi itu bisa dilakukan, tetapi apa dampaknya setelah itu—termasuk ke kawasan yang lebih luas,” ujar Broto.
Dengan demikian, sebagaimana ditunjukkan oleh pengalaman Afghanistan dan Irak dalam literatur akademik, operasi darat tidak dapat dipahami hanya sebagai instrumen militer untuk mencapai tujuan jangka pendek. Ia merupakan keputusan strategis dengan konsekuensi jangka panjang yang sering kali sulit dikendalikan, terutama ketika tujuan politik tidak didefinisikan secara jelas sejak awal. “Bukan berarti tidak mungkin. Tapi selama ada opsi lain yang lebih murah dan risikonya lebih kecil, operasi darat akan selalu jadi pilihan terakhir,” kata Broto.
Dalam kerangka ini, Nenggala Research memandang wacana operasi darat AS ke Iran sebagai sebuah peringatan strategis. Semakin besar skala intervensi, semakin tinggi probabilitas konflik berubah menjadi berkepanjangan dan meluas. Bahkan dalam skenario terbatas sekalipun, risiko eskalasi dan dampak sistemik tetap signifikan. Bagi para pengambil kebijakan dan pelaku ekonomi, hal ini menegaskan pentingnya pendekatan yang berhati-hati dan berbasis kalkulasi risiko jangka panjang. Dalam sistem internasional yang saling terhubung, keputusan militer di satu kawasan dapat dengan cepat berubah menjadi guncangan ekonomi dan politik di kawasan lain.
Link video: https://www.youtube.com/watch?v=tYdHcIJkgHQ&t=2s.


